Minggu, 13 Maret 2011

DAN AKHIRNYA


Mengepak barang-barang saya malam itu artinya mengucapkan selamat tinggal.
Dan akhirnya hari itu saya pun pergi. Saya harap ini bukan sebuah akhir, tapi masalahnya saya sudah terlanjur menganggap bahwa inilah akhirnya.
Ada kenangan yang saya kemas bersama buku-buku yang ter-pak rapi dalam kardus2 itu dan ada beberapa kisah yang tidak ingin saya bawa bersama saya. sudah saya pisah-pisahkan, kotak-kotakan, kardus-kardusan, dimana setiap celahnya sudah saya batasi sebagai daerah yang boleh atau tidak diijinkan untuk saya pikir.
Kamu mungkin menganggap saya terlalu berlebihan atau terlalu kaku dalam menanggapi masalah ini. kamu hanya tidak mengerti saya dan selamanya akan seperti itu karena saya tak ingin menceritakan dengan jelas apa yang saya rasakan. Saya hanya ingin bercerita dengan cara saya dan kamu cukup mendengarkan saja.
Sebenarnya saya tak suka menulis ini, tapi harus saya lakukan karena tak ada tempat dan waktu untuk berteriak sekeras-kerasnya.
Entah mengapa ada satu tempat dalam hati saya yang tak bisa saya kontrol. Rasa itu seperti tertidur lama dan meledak pada waktu yang spontan, ada waktu ketika ia meledak dalam riakan-riakan kecil dan menciptakan beberapa gambaran yang saya rindukan. ketika itulah hati saya tidak sejalan dengan pikiran saya. itu sedikit membuat saya merasa tenggelam dalam ketenangan yang sibuk dalam pikiran saya. jujur, saya memikirkannya. Hanya saja saya tak ingin mengatakannya karena saya tak pandai mengatakan tentang itu.
saya masih terjaga, saya masih sadar jika saya masih hidup. Saya masih bisa mengontrol jari-jari ini untuk menyentuh setiap tuts-tusts keyboard artinya saya pun bisa mengontrol bagian itu. Akhirnya terjadilah. Saya memutuskan untuk mengakhiri itu dengan cara saya. saya hanya ingin pergi. Menjauh dari setiap hal yang berhubungan dengan pikiran saya untuk tidak memikirkan apapun, siapapun dan dimanapun. Tentang dirinya.
Yap, semuanya akan saya akhiri sampai disini. Tak ada lagi saya, tak ada lagi disana, tak ada lagi yang akan dibicarakan. THE END.

Sabtu, 05 Maret 2011

GOODBYE LOVELY ONE


Tidak pada apapun.
sudah terjadi dan itulah hidup….

Pagi itu di bulan September lalu, aku sampai pada puncak pikirku yang manusiawi kalau hidup ini sungguh selalu tak adil bagiku. Aku menulis:
" saya selalu berpikir bahwa hidup memang tak adil…. Ketika kita tak bisa memiliki apa yang pantas kita miliki, ketika kita harus mengorbankan hati dan perasaan sendiri untuk kebahagiaan orang lain, ketika kita harus  memilih melakukan apa yang  tidak kita sukai. Tapi saya juga selalu percaya bahwa tak ada yang tak adil bagi Tuhan. Karena Dia akan memberikan yang indah dan terbaik untuk kamu dan orang lain dari setiap ketidakadilan yang saya pilih. Teruslah berjalan dan tersenyum, karena jika tidak, kamu sudah menyia-nyiakan setiap hal yang saya korbankan.GBU"

Lalu semuanya hilang. Entah didalam alam pikir yang mana… aku tak bisa menebak. Aku hanya ingin dimengerti tentang semua yang kulakukan bukan untuk kepentinganku tapi juga untuk orang lain yang kukasihi. Tapi semuanya tak bisa dipaksakan bukan? Aku hanya perlu waktu untuk memulihkan hatiku untuk tak terlalu merasa bersalah akan hal ini.
Aku tahu hatiku…. Cepat atau lambat akan berjalan searah dengan pikiranku. Dimulai dari sebuah kata yang akan diakhiri dengan pasti, hanya saja aku belum bisa mengendalikan diriku dengan baik saat kemarin.
Terimakasih karena kamu sudah cukup membantuku untuk usaha itu hingga aku bisa berkata g'bye lvly 1....
God n me U


Jumat, 04 Maret 2011

facebook atau fakebook (pernyataan bukan pertanyaan)


Sudah hampir 5 jam Facebookan. Akhirnya saya sedikit bosan untuk berpikir lalu update status: kaka Google bisa menerjemahkan lbh dri 50 bahasa tapi tdk akan bisa menerjemahkan or mengartikan bahasa Diam ke bahasa Indonesia. saya juga. untuk itulah Qta perlu bicara. i know u never leave.
hope everythin will b allryt.... JCn3MU”
Bukan tanpa tujuan saya menulis hal itu. Saya sedang memikirkan seseorang dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saya. kata-kata penguatan untuk diri sendiri tepatnya. Tapi mengapa saya berbicara di facebook?
Mungkin bisa berbagi tanpa terlihat, berteriak tanpa suara, lepas tanpa harus hilang, sedih tanpa kusut. Bebas mengekspresikan kata dan rasa. Bebas tersenyum dalam gelap, bebas menatap mengharap, bebas berteriak tanpa suara. Tapi ini tentang kemungkinan. Dan kemungkinan itulah yang menjadi alasan yang sedang saya pikirkan kebenarannya. Facebook atau Fakebook. Nyata atau maya.
Maya memang dibatasi jarak tapi tidak untuk rasa. Mata tak mampu melewatinya tapi hati, mampu menembusnya hingga ke ujung-ujung syaraf yang kebal. Maya membuat dorman pada nyata. Lima menit lebih lambat dari biasanya. Tombol slow motion tertekan pada nyata dan tak mau berjalan seperti dulu. Gerak dibatasi, pikir terbagi, bicara seperlunya, itu membuat saya sibuk tapi saya masih tak peduli apakah nyata atau maya karena disana adalah kata tanpa suara yang tak perlu berbisik dan bebas berteriak tanpa harus membangunkan malam.

Lalu, ini facebook atau fakebook. Terserah anda.

DI MAYA SAYA HANYALAH KATA TANPA SUARA… DI NYATA KAMU TANPA KATA TANPA SUARA….. itulah mengapa saya menulis ini, facebook atau fakebook. Ini bukan pertanyaan. Hanya pernyataan yang tidak perlu dipikirkan.

Selasa, 01 Maret 2011

UNTUK HARI INI

280209.... aku menulis tentang ini. Waktu itu ada tak bintang disana......
 "Hari ini, kau begitu istimewa. Ada banyak doa untukmu,hari ini….. ada harapan tulus yang selama ini dipendam dan baru dibuka hari ini, hanya untukmu. Dan kau akan terus berterimaksih karenanya.
     Kemarin punya cerita suka,  dan juga luka. Kemarin punya doa dan harapan. Tapi ceritamu hari ini, bukan tak sama dengannya, sama, tapi kau membuatnya berbeda.
     Luka kemarin, sukamu hari ini. Sedih kemarin, harumu hari ini. Senyum kemarin juga senyummu tapi senyummu tak bisa kau sembunyikan, dan doamu selalu kau yakinkan lagi.
     Bila kemarin lupa bersyukur akan satu kehidupan, hari ini selalu mengingatnya. Bila kemarin tak pernah punya airmata untuk satu helaan napas, hari ini tak bisa membendungnya.
Andai kemarin seperti dirimu, maka tak ada lagi malaikat-malaikat bersayap. Dan itu harapku bagi kemarin, untuk esok, karenamu hari ini.
Hari ini…. Cerita kita sama meski kau dan aku tak sama. Semua rasamu adalah rasaku. Meski Untukmu hanya sepenggal kisah sama yang bisa kuberikan untuk saling berbagi, maukah harapku padamu sebagai malaikat tak bersayap juga adalah harapmu untukku? Dan kau, hari ini, bisa kuganti dengan aku?
Bila ka uterus diam, ya adalah jawabmu." 

Hari ini aku bercerita, bukan agar kamu tahu, tapi supaya aku selalu mengingat ini..... saat yang sama tak ada bintang yang sama.
aku ingin menulis tentang hari kemarin pada saat kemarin di waktu esok saja.......

Rabu, 09 Februari 2011

LIL PARKER



P
ukul 7 malam bukan bukan waktu yang tepat untuk seorang anak berkeliaran di jalanan yang ramai. Tapi itulah yang sedang dilakukan oleh seorang anak kecil yang berumur sekitar  11 tahun.
Saya bertemu dengannya di depan toko Glory Kupang, dengan peluit terjepit pada kedua bibirnya, tangannya sibuk berayun menahan atau membiarkan setiap kendaraan yang lewat, dengan kekuatannya berusaha menggeser setiap badan kendaraan jika pengendara yang menggunakan jasa parkirnya mengalami kesulitan dalam menempatkan kendaraan pada tempat yang semestinya.

Pada waktu melihatnya saya bertanya-tanya “Lil Parker, mengapa kamu sudah bekerja?”
Saya tak ingin membuat perbandingan untuk apapun. Tapi bukankah untuk anak seusianya saat seperti ini adalah di rumahnya, menikmati makan malam atau belajar, menonton televisi atau berkumpul bersama keluarganya, istirahat atau melakukan kegiatan untuk anak-anak seusianya.
Seusianya, Saya pernah menjual kelereng-kelereng saya yang saya dapatkan dari hasil kemenangan dalam permainan itu untuk membeli selusin spidol. Apakah lil parker itu juga menjual jasanya untuk membeli spidol atau permen? Tapi bagaimana jika untuk membeli makan karena seharian ia tak makan? Ataukah itu untuk membantu orang tuanya untuk membeli kebutuhan pokok?

Kemungkinan kedua dan ketiga tersebut selalu membuat saya berpikir bahwa kehidupan itu tak adil dalam sudut pandang saya sebagai manusia.
”Bondye konn bay, men li pa konn separe”
Adalah pepatah Haiti yang artinya Tuhan memberi tapi tidak membagi. Tuhan memberi kita manusia segala sesuatu yang dibutuhkan untuk berkembang. Tapi bukan Dia yang harus melakukan pembagian. Tugas itu ada ditangan kita.
Saya berpikir bahwa pepatah itu ada benarnya. Hidup memang terlalu keras dengan semua dinamika yang tejadi. Hidup memang terlalu misterius dalam menceritakan kehidupan yang terjadi didepan kita. Kadang membuat kita frustrasi jika memaksa memikirkannya. Kadang membuat kita terasing dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah kita lakukan dan kita mengutuk hidup untuk ketidakberpihakannya pada kita. Ya sudah, mengapa kita masih memikirkan itu? Lakukan saja yang harus kita lakukan dengan kemampuan terbaik kita, miliki hati yang peka dan berjalan dalam rel batin kita sebagai manusia yang sesungguhnya dan tidak perlu mempertimbangkan hal yang bertentangan dengan sifat dasar kita sebagai manusia yang egois sehingga apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita pun dapat menjadi bagian kita dan kita dapat menikmatinya.

Dan si Lil Parker telah berada pada jalan dan cara terbaiknya. Melakukan apa yang bisa dilakukannya meskipun itu bukan yang seharusnya dan kita pun harus melakukan apa yang harus kita lakukan untuk kita sendiri dan untuk diriya.
Saya membayar jasa parkiran, mengucapkan terimakasih padanya dan dia tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya. Saya berharap jika suatu saat nanti saya kembali lagi, saya mengenalinya bukan lagi Lil Parker tapi setidaknya sebagai seorang Polantas atau apapun yang dicita-citakannya.

Tuhan memberkatimu dengan limpah, Lil Parker.

Senin, 07 Februari 2011

PERNAH LELAH UNTUK BERDOA (Tulisan ini sewaktu-waktu akan saya hapus)



Saya ingin membaca tapi saya malah menulis ini. sesuatu yang tidak ingin saya bagikan tapi saya bagikan tepatnya saya ragu-ragu untuk membagikannya. Saya hanya ingin bertanya pernahkah kau disana, disaya?
Pernahkah kau disana: “malam itu saya tidak mematikan lampu kamar. Tidak seperti biasanya. Entah mengapa, saya tak tahu. Tengah malam itu ada  yang mengetok pintu kamar, saya mendengar tapi ketokan itu tak ada lagi untuk yang kedua kali. Saya tak menghiraukan hal itu dan malam itu dengan malas saya hanya bilang “ malam Tuhan” lalu mencoba tidur. Beberapa saat kemudian entah sadar entah tidak, dengan spontan saya melihat ke arah pintu. Ada dia disana. Datang ke ranjang saya, berbaring bersama saya lalu memeluk dan mencekik saya. saya meronta, saya seperti kehabisan napas, saya berteriak, saya menendang, saya bergulat hebat, saya berkeringat, saya seperti hampir mati, saya mencoba berucap, Oh Tuhan, tolong saya… saya tidak percaya apa yang sudah terjadi, mata saya hanya bisa memandang tembok kuning atas dekat plafon itu, saya marah dan berkata apakah kau lebih hebat dari Tuhan saya? tapi  saya hanya bisa melihat tembok itu, dan sepertinya sebentar lagi saya akan mati….. saya betul-betul kehabisan napas… saya berpikir ya Tuhan saya pasti mati… tapi tiba-tiba saya bisa bernapas kembali, merasa sedikit kelegaan tapi mata saya masih di tembok itu. Saya melihat ada sinar kebiru-biruan seperti aliran listrik mengelilingi setiap sisi dan sudut tembok kamar saya. saya bisa bernapas, saya bisa duduk, saya bisa melihat kiri, kanan, muka dan belakang. Saya masih bisa mengingat wajah dia yang mencekik saya, seseorang yang saya kenal dengan baik,  yang mungkin kewalahan dengan dengan kekuatan doa saya dan sahabat-sahabat saya. Keesokan harinya saya bertanya pada orang itu apakah dia baik-baik saja? Dia bilang iya dan bertanya mengapa? Saya hanya bilang saya mimpi buruk. Dia tak memberi respon dan dengan berani saya ke rumahnya hanya untuk melihat dirinya dan menatap matanya tapi saya tak ingin bertanya mengapa dia melakukan itu pada saya? saya sudah tahu”
Pernahkah kamu disaya “ Malam tadi… saya ingin memastikan semuanya baik-baik saja sebelum saya memutuskan untuk tidur. Saya menuggu semuanya tertidur dan sembari itu Saya menghapus beberapa sms yang memenuhi inboks saya. Empat nama dengan empat peristiwa dan empat rahasia. Saya merenung tentang sakit kepala yang teramat hebat tadi sore. Saya pernah merasakan itu dan saya mulai takut untuk sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Saya berharap semuanya akan baik-baik saja sampai saya dibawa pada gambaran itu. Bukan suatu imajinasi visual yang saya ciptakan sendiri karena saya tidak suka melihat hal-hal aneh seperti itu. Saya disana dan menyaksikan sesosok makhluk abu-abu berambut ikal dengan lidah merahnya. Berteriak dan meronta-ronta kesakitan. Di lehernya saya melihat sebuah gergaji yang sedang menempel di lehernya tapi saya tidak melihat darah. Yang saya lihat hanya penampakkan kepala sampai lehernya. Saat itu saya hanya berkata “ mengerikan.. mengerikan” dan saya mencoba lari dari situ. Lalu saya tiba pada sebuah ruangan. Tepatnya sebuah kamar tidur. Didalamnya terdapat dua tempat tidur yang dibatasi oleh sebuah meja, entah meja apa, saya tidak melihat secara jelas. Di tempat tidur bagian kiri dari pintu saya melihat seorang gadis yang sedang berbaring melipat badan ke arah tembok, membelakangi tempat tidur yang satunya. Gadis itu berbaju putih dan bercelana hitam. Tapi ketika saya mencoba melihat dengan seksama, celananya bukan hitam tapi cokelat. Dia sepertinya sedang menangis, kedinginan atau apalah itu saya tidak tahu karena tiba-tiba saya kembali lagi pada sosok abu-abu itu yang menatap saya dan lagi-lagi saya berkata mengerikan-mengerikan dan mencoba lari dari situ. Dan akhirnya saya memang tidak lagi disitu dan saya tertidur. Keesokan harinya (hari ini) saya memikirkan hal itu. Saya ke belakang rumah dan langsung melihat ayam betina tetangga saya yang berwarna abu-abu dan saya terkejut setengah mati ketika saya mendapati bahwa saat ini saya sedang memakai baju putih dan celana cokelat.”
Saya tidak ingin menyimpulkan apapun sekarang. Saya hanya ingin mengakui bahwa akhir-akhir ini saya terlalu lemah untuk berdoa. Saya terlalu sibuk dengan urusan saya sampai capai dan akhirnya terlalu lelah bahkan lupa untuk mendoakan apapun.

Let’s PRAY
Matius 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."

1 korintus 14:15. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

1 Korintus 7:5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

Lukas 21:36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

Roma 1:10 Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.

Efesus 6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,
Filipi 1:3. Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.
1:4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.

1 Tesalonika 5:17 Tetaplah berdoa.

1 petrus 4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.