“Diam adalah ketika kuberikan hati dan doaku bekerja. Ketika bibirku terkatup, ku tahu artinya bahwa tak ada yang boleh diam bekerja untukku.
Dan saat ini diam telah melakukan tugasnya. Rahasiaku bukan lagi rahasiaku. Dilemaku bukan lagi pilihan yang harus kupilih salah satunya.
Dan kebenaran telah memberikan dirinya untukku tanpa ku undang, kupaksa dan kuduga.
Namun, kebenaran memang tak selalu benar untuk setiap tindakan saat ini. Sakit, tanpa akal, urat pikir menimbul dan berkerut, hati panas karena bara luka.
Air mata tak lagi mampu untuk menunjukkannya…..
Maaf masih jauh dari jangkauan…..
Karena Salah masih ditemani ketidakjujuran.
Bila hati yang lain tak lagi terikat pada cinta yang salah, malu bukanlah alasan untuk akui salah, kisah ini akan berakhir tanpa salah dan melupakan yang salah bukan lagi hal yang salah.
Tapi jangan berakhir saat ini, karena waktu masih panas untuk berjalan dan memutuskan”
Inilah sepenggal tulisan yang kutulis pada 14 Maret 2009 pukul 16.58 WITA. Ketika aku berusaha untuk tidak menjadi seseorang yang introvert dan penuh rahasia.
Ada begitu banyak hal kusimpan sendiri dan aku selalu menunggu waktu yang akan membukanya. Tapi hal ini tentu saja menyodokku menyalahkan diri sendiri. Sesuatu yang sebenarnya bisa kucegah untuk tidak menjadi retak.
Lalu aku memberanikan untuk menulis disini agar kau tahu bahwa aku sedang belajar untuk tidak menyimpan semua kisah ini sendiri. Aku hanya ingin bercerita, kau membaca dan jangan bertanya, DON’T TRY TO UNDERSTAND. Cukup dengarkan saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar